[Parenting Class] Mengoptimalkan Kecerdasan Anak Melalui Multiple Intelligence – Part 1

“Jadi orang tua itu enggak ada sekolahnya, belajar mengikuti insting.” Itulah kata ibu saya dulu. Sebelum jaman mulai berubah. Dan mulai banyak kelas parenting atau kelas untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Dan sekarang dengan kecanggihan teknologi, sebuah kelas parenting, tidak selalu kita harus datang ke suatu tempat. Tapi sudah banyak yang dilakukan secara online, baik lewat webinar alias seminar online, atau lewat grup di Whats App yang sekarang sedang ramai.

Pagi ini saya ikut kelas parenting tentang Mengoptimalkan Kecerdasan Anak Melalui Multiple Intelligence oleh Leader Lab (http://instagram.com/leader.lab) dengan pembicara Mbak Wulansari Ardianingsih, atau biasa disapa Wuri. Mbak Wuri adalah kepala bagian kurikulum di Leader Lab. Beliau memiliki latar belakang pendidikan dari Fakultas Psikologi UI. Selain itu, beliau juga memperoleh pendidikan S2-nya di jurusan Psikologi Pendidikan di University of Cambridge, UK.

Seperti kulwap lainnya, ada admin di dalamnya, dan beberapa rules yang harus dipatuhi. Tapi saya nyaman tadi karena saat sesi dimulai, hanya pembicara yang ‘ngobrol’, peserta harus diam dulu, agar tidak tumpang tindih chat-nya. Dan saat tanya jawab, peserta harus menyampaikan pertanyaannya ke admin, tidak langsung di grup, sehingga tidak kacau. Dan karena dipilih admin pertanyaannya, jadi bisa dipilih yang mewakili pertanyaan semua peserta. Dan sebelum dimulai kelasnya, kita dikasih insight materi dan diminta mengerjakan semacam tes untuk mengetahui kekuatan diri kita sendiri. Jadi sebelum kita belajar mengenali kekuatan dan kecerdasan anak kita, kita harus bisa mengenali diri sendiri. So far, saya puas dengan kelas ini 🙂

Berikut adalah transkripnya yang saya copas dari grup Whats App Leader Lab. Materi ini saya bagi dalam beberapa bagian karena cukup panjang.

Atau silakan download PDF Transkrip materi ini di sini: http://bit.ly/KulwapMI

Selamat pagi para Bunda hebat. Perkenalkan, saya Wuri. Terimakasih sudah bergabung dengan kulwap hari ini untuk belajar bersama mengenai kecerdasan anak. Sebelum saya mulai, saya memiliki sebuah video inspiratif yang dapat dilihat di link berikut ini. Saya akan memberikan waktu 10 menit setelah itu kita akan mulai pembahasan ya Bunda.

Mungkin beberapa dari Bunda sudah pernah menonton video tersebut. Semoga video tersebut dapat memberikan inspirasi bagaimana kita biasa memandang kecerdasan dan mengenai sistem pendidikan kita.

Untuk memulai sesi sharing hari ini. Mungkin saya ingin bertanya dulu. Kalau mendengar kata ‘pintar’ atau ‘cerdas’ apa yang muncul di kepada Bunda?

Kalau kita mendengar kata ‘pintar’ atau ‘cerdas’ yang muncul di kepala kita mungkin adalah anak yang sudah bisa menghitung padahal masih balita, anak yang sudah bisa membaca..atau kalau sudah bersekolah, anak yang kita anggap pintar adalah yang mendapat ranking 1 atau anak yang juara di lomba matematika.

Lalu kalau ada anak yang sangat supel saat bertemu dengan orang lain, dapat memahami perasaan orang lain dengan baik..apakah anak itu pintar? Kalau ada anak yang sangat mahir menari atau bermain bola, apakah kita menganggap ia pintar dan mendorong anak untuk mengembangkan kemampuannya, atau kita justru menganggap ia hanya membuang-buang waktu saja?

Ketertarikan para ahli pada kecerdasan berawal dari tahun 1900an ketika di Paris, ada seorang psikolog ahli bernama Alfred Binet diminta untuk membuat alat tes yang dapat menentukan apakah seorang anak akan berhasil atau gagal dalam pendidikannya di SD. Singkat cerita, Binet berhasil membuat tes tersebut, tes yang akurat untuk memprediksi performa akademik anak di sekolah. Tes ini yang kemudian kita kenal sebagai tes IQ. Pada masa itu tes IQ kemudian menjadi sangat populer. Mengapa tes IQ ini begitu populer? Karena tes tersebut dapat membuat orang mengukur secara ‘nyata’ apakah seseorang ‘pintar’ atau tidak.

Perkembangan ini kemudian membuat kita beranggapan bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang bersifat tunggal dan menyeluruh, sehingga pertanyaan yang sering muncul adalah “dia pintar atau tidak?” atau “seberapa pintar anak itu?”

Pemahaman akan kecerdasan tunggal juga memengaruhi sistem pendidikan. Sistem pendidikan dibuat seragam, cara mengajar dibuat sama, dan pengujian kemampuan anak didasarkan pada tes yang seragam pula. Keseragaman di sekolah terdengar adil karena semua orang diperlakukan dengan sama. Apakah benar demikian? Nyatanya, keseragaman cara mengajar dan sistem evaluasi di sekolah cenderung hanya mengakomodir satu atau dua gaya berpikir anak saja. Hal ini sejalan dengan tes IQ yang memang lebih menitikberatkan pada pengujian kecerdasan logika matematika dan bahasa.

Inilah yang berkembang dalam dunia pendidikan kita. Untuk membuat pendidikan ‘adil’, semua orang diperlakukan sama. Padahal setiap anak memiliki potensi, cara berpikir, dan kemampuan yang berbeda-beda. Sayangnya, dengan pendekatan keseragaman, kita akan sulit melihat potensi dan kemampuan unik dari setiap anak. Hal ini dapat membuat anak merasa tidak dihargai atau bahkan merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa sehingga ia merasa gagal dan rendah diri.

Menanggapi hal ini, pada tahun 1980an seorang ahli psikologi pendidikan, Howard Gardner, memberikan cara pandang yang berbeda mengenai kecerdasan manusia.

Kecerdasan tidak dilihat sebagai sesuatu yang tunggal dan menyeluruh, tapi sebagai sesuatu yang majemuk. Artinya, kecerdasan dapat muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda. Setiap orang memiliki seluruh kecerdasan tersebut, namun kemampuannya dalam masing-masing kecerdasan dapat berbeda. Biasanya seseorang memiliki beberapa jenis kecerdasan yang lebih dominan. Dengan cara pandang ini, maka pertanyaannya bukan lagi “apakah dia pintar atau tidak” tetapi “bagaimana bentuk kecerdasannya”. Apakah terdengar berbeda? Tentu saja. Pertanyaan kedua membuat kita, orang tua dan pendidik melihat anak dari sudut pandang yang lebih positif dan memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengembangkan dirinya secara unik.

Implikasi kedua dari cara pandang kecerdasan majemuk, atau multiple intelligence (MI) adalah mengenai bagaimana kecerdasan terbentuk. Pada paham kecerdasan tunggal, kecerdasan adalah sesuatu yang bersifat genetik dan menetap. Sebaliknya, pandangan MI melihat bahwa kecerdasan merupakan gabungan dari faktor genetik dan faktor belajar. Setiap anak lahir dengan kecenderungan untuk pandai di salah satu bidang, namun kecerdasannya ini akan terbentuk dengan optimal atau tidak sangat tergantung oleh stimulasi dari lingkungannya. Misalnya ada dua orang anak, Ani dan Budi. Ani terlahir dengan potensi kecerdasan musikal yang sangat tinggi, sedangkan Budi biasa saja. Apakah Ani dan Budi bisa sama-sama menjadi ahli di bidang musik? Jawabannya adalah iya. Bedanya, kalau Ani bisa belajar lebih cepat dan tidak terlalu merasa kesulitan, sedangkan Budi perlu usaha yang lebih dibandingkan dengan Ani. Apakah mungkin Ani tidak menjadi seorang ahli musik? Tentu saja sangat mungkin. Kalau selama hidupnya kemampuan ini tidak pernah distimulasi atau dilatih ya tentu saja akan menjadi sia-sia.

Menurut Gardner, kecerdasan adalah: kapasitas untuk memproses beberapa jenis informasi yang dapat ditemukan dalam fisik dan psikis manusia. Kecerdasan manusia dan makhluk hidup lain tentu saja berbeda. Sebuah kecerdasan mencakup kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau membuat sebuah produk sesuai dengan lingkungan budaya dan komunitasnya. Kemampuan menyelesaikan masalah ini termasuk kemampuan menetapkan tujuan dan mencari tau langkah untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah yang akan dipecahkan atau ingin dicapai tersebut tidak hanya terbatas pada soal-soal matematika atau percobaan ilmiah Bun. Tapi bisa juga mencakup pembuatan cerita, membuat suatu gerakan tarian yang indah, mengenali berbagai tumbuhan yang berbeda, dan sebagainya.

Nah, berdasarkan serangkaian penelitian, ini dia 8 bentuk kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner:

  • Verbal linguistik, atau kecerdasan bahasan
  • Logika matematika
  • Visual spasial
  • Musikal
  • Naturalistik
  • Kinestetik
  • Interpersonal
  • Intrapersonal

Sudahkah Bunda mengisi link kuisioner yang dikirimkan oleh admin semalam?
http://www.literacynet.org/mi/assessment/findyourstrengths.html
saya akan berikan waktu 7 menit untuk Bunda mencobanya ya 🙂

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *